Feeds:
Tulisan
Komentar

MERAMAL MASA DEPAN ANAK DENGAN TES “MARSHMALLOW”

oleh : Bunda Nurul Khotimah
Berikut adalah hasil penelitian yang dilakukan Walter Mischel untuk mengukur tingkat kontrol diri anak dan pengaruhnya terhadap keberhasilannya di masa depan.
Di akhir tahun 1960an, Walter Mischel, seorang profesor ilmu psikologi di Stanford University melakukan sebuah percobaan sederhana yang kemudian menjadi buah bibir di dunia psikologi. Awalnya, dia hanya ingin menyelidiki proses mental yang membuat sebagian orang mampu mengontrol diri mereka, sementara lainnya menyerah dengan cepat. Anak-anak yang ikut dalam eksperimennya diundang untuk masuk satu per satu ke sebuah ruangan di Bing Nursery School, yang terletak di kampus Stanford University. Ruangan tersebut tidak terlalu besar, dan hanya terdapat sebuah meja dan kursi di dalamnya. Di atas meja tersebut terdapat berbagai makanan kesukaan anak kecil: kembang gula marshmallow, biskuit, dan pretzel.
Anak yang masuk kemudian akan diminta untuk duduk dan dipersilakan memilih salah satu dari makanan-makanan kecil tersebut. Seorang periset kemudian mengajukan tawaran: Anak tersebut boleh langsung mengambil pilihan mereka; atau jika mereka mau menunggu periset tersebut yang akan keluar selama beberapa menit, anak tersebut boleh mendapatkan dua jenis makanan kesukaan mereka. Bila mereka tidak sabar menunggu dan ingin segera menikmati makanan kecil tersebut, mereka boleh membunyikan lonceng yang ditaruh di atas meja, dan periset tersebut akan langsung masuk untuk memberikan anak satu jenis jajanan saja. Setelah anak-anak tersebut mengerti, periset tersebut kemudian meninggalkan ruangan sekitar lima belas menit.
Eksperimen tersebut dilakukan selama beberapa tahun. Dalam upaya menahan godaan mereka untuk mendapatkan tawaran yang nilainya dua kali lebih banyak, sebagian anak-anak menutup mata mereka, bersembunyi di kolong meja, atau melihat ke arah lain. Yang lainnya menendang-nendang meja, atau bermain-main dengan rambut mereka. Salah seorang anak terlihat melirik sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Kemudian dia mengambil sebuah Oreo, membuka bagian tengahnya, menjilati krim putihnya, dan kemudian dengan mengembalikan biskuit tersebut ke tempat semua — dengan wajah penuh kemenangan. Dan tentu saja, beberapa anak menyerah dan tanpa membunyikan lonceng, langsung menyantap makanan kesukaan mereka.
Setelah menerbitkan beberapa makalah dari percobaan di atas, Mischel berpindah ke penelitian-penelitian lain. Eksperimen yang melibatkan anak-anak yang berjuang melawan nafsu mereka memang cukup menarik, tetapi Mischel tidak merasa percobaan tersebut bisa melambungkan namanya. Masih banyak penelitian lain yang kelihatannya lebih menarik dan berbobot.
Sesekali ketika Mischel berbincang-bincang dengan tiga orang anak perempuannya yang juga pernah bersekolah di Bing, dia menanyakan kabar teman-teman sekelas mereka. Bagaimana kabar Jane? Bagaimana kabar Eric? Dari jawaban-jawaban para putrinya, Mischel mulai menyadari adanya hubungan antara prestasi akademik teman-teman anaknya setelah remaja dengan kemampuan mereka menahan diri selama eksperimen di atas. Dia meminta putri-putrinya memberikan skala 0-5 untuk menilai prestasi akademik teman-teman mereka, dan hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan data pada percobaan tersebut. Begitu dia menemukan adanya korelasi yang menarik antara kemampuan kontrol diri dan prestasi akademik anak-anak tersebut, dia segera memutuskan kembali meneliti data-data percobaan tersebut dengan serius.
Di tahun 1981, ketika anak-anak tersebut sudah masuk usia sekolah menengah, Mischel mengirimkan kuisioner kepada para orang tua dan guru dari 653 anak-anak yang pernah mengikuti eksperimen di Bing tersebut. Kuisioner tersebut memuat pertanyaan-pertanyaan tentang semua perilaku yang bisa dipikirkannya, dari kemampuan mereka membuat rencana, atau berpikir ke depan, kemampuan mengatasi masalah atau konflik, atau kemampuan antar personal mereka. Dia juga meminta hasil ujian SAT mereka (SAT adalah ujian standar di Amerika untuk masuk ke perguruan tinggi).
Ketika data-data masuk dan Mischel mulai menganalisis hasilnya, dia menemukan anak-anak yang tidak sabar, yang tidak bisa menahan diri mereka dalam percobaan tersebut, lebih mungkin menghadapi masalah tingkah laku, baik di sekolah atau pun di rumah. Mereka juga mendapatkan nilai ujian yang lebih rendah, sulit berkonsentrasi dan memiliki lebih sedikit teman. Mereka yang bisa bertahan selama 15 menit dalam ruangan tersebut tanpa menyentuh makanan kesukaan mereka, secara rata-rata berhasil meraih nilai SAT 210 poin lebih tinggi dari mereka yang hanya bertahan 30 detik. Ketika mereka berusia 30 tahun, anak-anak yang dulunya tidak bisa mengontrol diri mereka memiliki berat badan yang lebih tinggi, dan lebih mungkin terlibat dalam obat bius.
Mengapa kontrol diri sangat penting? Selama berpuluh-puluh tahun, para psikolog dan masyarakat umum percaya bahwa kecerdasan adalah faktor utama untuk menentukan sukses di kemudian hari. Tetapi seperti yang kita baca di buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya, hal tersebut tidak benar. Kecerdasan tanpa pengetahuan mendalam di satu bidang tidaklah berguna, dan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut dibutuhkan kerja keras. Mischel juga berpendapat demikian. Anak dengan IQ setinggi langit pun harus mengerjakan pekerjaan rumah mereka, dan kontrol diri memungkinkan mereka berfokus melakukan hal yang harus dilakukan, meski mereka tidak menyukainya.
Menurut Mischel, apa yang penting dari eksperimen tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama ujian marshmallow, bukanlah cuma tentang kontrol diri atau kekuatan keinginan, tetapi tentang bagaimana mereka mencari cara agar tujuan mereka tercapai dalam situasi yang menantang. Pada dasarnya, semua orang menginginkan “marshmallow” kedua, ketiga, dan seterusnya. Yang menjadi pertanyaan: Bagaimana cara mendapatkannya? Kita tidak bisa mengontrol lingkungan kita, tetapi kita bisa mengontrol tanggapan kita tentang situasi yang sedang kita hadapi tersebut. Kemampuan mengontrol diri kita sendiri tersebut, pada akhirnya yang akan menentukan ke arah mana hidup kita akan menuju.
Menurut Mischel, itulah sebabnya ujian sederhana tersebut mampu meramalkan dengan baik keberhasilan anak-anak tersebut berpuluh tahun kemudian. Ujian tersebut adalah tentang kemampuan mengatasi emosi sesaat. Jika Anda bisa menghindari godaan sesaat tersebut, Anda bisa berfokus pada tujuan jangka panjang yang lebih penting seperti belajar, berlatih, atau menabung untuk masa depan. Meski eksperimen Mischel ini tidak ditujukan untuk menjelaskan pencapaian keahlian individu, bisa dipastikan kemampuan kontrol diri tersebut jelas dibutuhkan untuk menjalani deliberate practice dan pembelajaran yang benar selama belasan tahun.
Lalu bagaimana kemampuan kontrol diri tersebut diperoleh? Studi Mischel dan rekan-rekannya yang berikutnya menemukan perbedaan kemampuan kontrol diri tersebut sudah muncul sejak anak-anak belajar berjalan, sekitar satu setengah tahun. Anda yang masih percaya bahwa faktor keturunan adalah faktor utama dalam pencapaian sukses dan keahlian akan segera bersorak. Nah, akhirnya terbukti juga keturunan adalah faktor yang paling penting. Namun, tunggu dulu. Jangan bersorak gembira dulu karena Mischel tidak setuju dengan Anda. Lingkungan lebih mungkin menjelaskan perbedaan tersebut. Ketika Mischel melakukan eksperimen di keluarga miskin dengan keluarga kaya, dia menemukan anak-anak dari kalangan berada memiliki kontrol diri yang lebih tinggi. Mengingat tidak ada gen yang berkaitan dengan kekayaan, maka penjelasan yang lebih masuk akal adalah kontrol diri merupakan hasil dari pendidikan di rumah. Orang tua yang miskin tidak memiliki waktu untuk melatih anak-anak mereka menunda kesenangan karena sibuk dengan urusan perut yang lebih mendesak. Kontrol diri adalah hasil dari latihan yang diberikan orang tua sejak sedini mungkin.
Untuk membuktikan hal tersebut, Mischel dan rekan-rekannya mengajari anak-anak untuk menganggap gula-gula marshmallow sebagai awan. Melalui latihan tersebut, kontrol diri anak-anak tersebut meningkat naik. Tentu saja agar kemampuan mengalihkan perhatian tersebut menjadi kebiasaan, hal tersebut perlu diulang dan dilatih.
Bagaimanakah dengan kontrol diri Anda, atau anak-anak Anda?

Marshmallow dan anak

TINGKAT kesadaran masyarakat untuk memberikan pendidikan pada anak usia dini sudah semakin membaik. Hal itu sejalan dengan gerakan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang digalakkan pemerintah. Hanya kesadaran tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) yang memenuhi syarat.

Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Jabar, Anna Anggraeni mengatakan, hal itu terjadi karena adanya persepsi dan cara pandang yang salah dari masyarakat. Mencampuradukkan pendidikan dengan nilai bisnis. Menganggap PAUD menjadi lahan peluang untuk mencari uang.

 

Yang paling fatal, bila latar belakang pendidik tidak memahami kurikulum tumbuh kembang anak, keunikan anak dan perkembangan inovasi model pembelajaran. Padahal, PAUD merupakan fasilitator yang menjembatani keunikan setiap anak. Anak dalam satu kesempatan bisa mendapat multikecerdasan.

Menyadari segala keterbatasan tersebut, Himpaudi selaku organisasi profesi yang beranggotan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD sudah membentuk pengurus mulai dari tingkat wilayah, kab./kota, dan ranting beberapa kecamatan yang satu sama lain saling berhubungan secara sinergis.

Hal itu bertujuan untuk peningkatan mutu pendidik dan saling melengkapi. Sesuai visi Himpaudi tahun 2015 menjadikan pendidik yang profesional, tangguh, berakhlak mulia, dan disyaratkan berlatar belakang S-1.

Sementara untuk percepatan sosialisasi dan peningkatan mutu pendidik, Himpaudi mengadakan pelatihan “Beyond Center and Circle Times” (BCCT).

“Respons di daerah sangat mengharukan. Mereka sangat haus ilmu dan pembelajaran. Sungguh, percepatan pelayanan yang kita berikan harus kita jaga bersama untuk kualitas pendidik tutor di lapangan,” ujar Anna.

Pelatihan swadaya dan yang terakhir kami lakukan tanggal 5-6 Juli 2008 di PAUD terbuka Bina Insani. Pada kesempatan itu, para pengurus melakukan temu pimpinan daerah dengan inovasi kemasan kegiatan. “Bukan hanya sharing, caracter building, tetapi juga pemberian materi pendidik PAUD dari Jakarta,” ujarnya. Peserta juga memeroleh materi-materi tentang penanaman budi luhur oleh pembina Bina Insani. “Semua itu diupayakan untuk mengupas sentuhan hati kiprah dan tugas profesi pendidik PAUD,” imbuhnya.

Selain itu, Himpaudi berupaya keras melalui semua komponen untuk menjaga kesinambungan PAUD nonformal dan PAUD informal, antara lain para tutor, keluarga, ibu dan bapak pengasuh, serta anggota keluarga lainnya termasuk nenek, kakek, agar kesinambungan pendidikan dengan kemasan iman dan takwa tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di rumah dan di lingkungan anak tersebut berada.

“Memang masih perlu adanya sosialisasi dan kesadaran semua pihak. Apalagi anak peniru ulung dan sangat membutuhkan rasa aman dan nyaman serta keteladanan dari sekitarnya,” ujar Anna.

Menjawab tentang dampak negatif bila lembaga PAUD tidak sesuai dengan yang disyaratkan, Anna mengatakan, akan terjadi dampak permanen, mengingat usia anak PAUD memiliki kecerdasan optimal yang dapat menyerap apa pun yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu, semua metode yang terangkum dalam BCCT menjadi semacam “obat generik”.

Panduan kegiatan PAUD ini disesuaikan dengan tumbuh kembang dan dikemas dalam suasana bermain sambil belajar. Tidak lagi dengan sistem klasikal. Pendekatan lingkaran dan sentra ini didesain untuk memenuhi identitas anak bermain, mampu melahirkan minat yang pada akhirnya menumbuhkan minat pada keaksaraan. Jadi bukan dengan cara calistung.

“Jadi, tuntutan orang tua yang merasa bangga dan menuntut anak usia dini mahir calistung bukan lagi cara pandang tepat. Selain belum waktunya, juga melanggar hak anak bermain. Efeknya, akan menimbulkan kejenuhan dini pada anak. Biasanya terlihat pada usia anak kelas 4 SD dan seterusnya,” tutur Anna.

Perihal syarat sebuah lembaga PAUD yang ideal, Anna menyebutkan niat sebagai landasan awal. Sementara pengelolanya bisa PAUD nonformal, TPA, kelompok bermain, SPS yang didirikan oleh organisasi kemasyarakatan dan berbadan hukum. Dapat pula oleh orsos dan organisasi wanita yang memiliki susunan pengurus, pendidik yang berlatar belakang yang disyaratkan, rencana tahunan, semester, bulanan, dan harian.

Berdasarkan UU No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Ini agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Hal ini diungkapkan Dr H Imron Arifin M Pd saat diundang sebagai nara sumber dalam Pelatihan Manajemen dan Pembelajaran TK bagi Guru TK Binaan Dharma Wanita Persatuan se Kabupaten Kutai Barat yang diselenggarakan Darma Wanita Persatuan Kabupaten Kutai Barat, 19-20 Januari 2009 lalu, di Aula TK Pembina, Melak, Kecamatan Melak.

Imron Arifin yang juga ketua Yayasan Pendidikan Anak Saleh Malang dan Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Malang, menerangkan dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal, dilaksanakan melalui jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat, dan melalui jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Lalu PAUD berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan lingkungan.

Manajemen program PAUD yaitu manajemen pendirian PAUD (membuka lembaga PAUD baru dan manajemen perbaikan/pembenahan PAUD (improvisasi manajemen PAUD yang sudah jalan). Persyaratan minimal manajemen PAUD yaitu ada peserta didik usia dini (0- 6 tahun), ada penyelenggara berbadan hukum, ada pengelola PAUD (TPA, KB, BKB, TK, dll), ada pendidik dan tenaga kependidikan PAUD. Juga, tersedia sarana dan prasarana pendidikan, memiliki menu generik (kurikulum), memiliki program kegiatan belajar-bermain dan mengajar (PKBM), dan tersedia sumber dana untuk pelaksanaan atau operasional pendidikan.

Ditambahkan, dalam manajemen PAUD mempunyai orientasi layanan berupa layanan kesehatan dan gizi (pertumbuhan, layanan kecerdasan dan psikologis, layanan sosial dan sikap (Emosional), layanan keagamaan dan spiritualisasi. Hal ini bertujuan agar anak usia dini yang terdidik dapat memiliki pengalaman belajar, otak berkembang optimal, pertumbuhan fisik sehat, perkembangan, psikososial positif, dan bertumbuh sesuai dunia anak.

Selain itu Imron Arifin mengungkapkan, mengenai substansi pengelolaan program PAUD yang meliputi manajemen personalia atau SDM, kurikulum (menu) kegiatan bermain dan belajar kemudian manajemen peserta didik, manajemen keuangan lembaga, dan manajemen humas serta manajemen sarana- prasarana.

Dalam hal ini Imron Arifin pun menegaskan bahwa di dalam manajemen keuangan lembaga harus jelas yaitu pembukuan keuangan yang akuntable, pembukuan sumbangan-sumbangan, pelaporannya dan pertanggungjawaban, pelaporan keuangan dana bantuan dari pemerintah dan instansi terkait. Selain itu pun juga harus memiliki manajemen pendukung keuangan yang juga mempunyai pembukuan usaha-usaha ekonomi PAUD, dan pembukuan khusus dana-dana keagamaan, serta pembukuan keuangan POMG.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) yang baik dan tepat dibutuhkan anak untuk menghadapi masa depan, begitulah pesan yang disampaikan Profesor Sandralyn Byrnes, Australia’s & International Teacher of the Year saat seminar kecil di acara Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011 lalu.

Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. “Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini,” jelas Byrnes.

Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. “Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa.”

Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. “Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar,” jelas Byrnes.

Contoh, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, “Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak,” contoh Byrnes.

Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. “Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya,” ungkap Byrnes.

Apa perbedaan anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan usia dini berkualitas dengan anak-anak yang tidak belajar? “Di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar. Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan cukup di usia dini, akan lamban menerima sesuatu,” terang Byrnes yang pernah mendapat gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia. “Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban. Menurut saya, pendidikan anak sudah bisa dimulai sejak ia 18 bulan,” tutup Byrnes.

Liburan tanggal 22 April 2011 saya pulang kampung mengunjungi orangtua dan keluarga. Kakak saya yang tinggal di kampung dengan bangga bercerita bahwa cucunya baru tes masuk SD dan diterima. Tesnya antara lain berupa membaca dan menulis serta membuka komputer. SD yang dimasuki adalah SD swasta favorit yang lokasinya di kota dan konon siswanya dari berbagai kecamatan.  

Apakah tes masuk SD hanya terjadi SD itu? Ternyata tidak. Kata kakak saya dan saudara yang ikut ngobrol saat itu ternyata hampir semua SD menerapkan tes masuk. Bahkan di SD negeri di kampung sayapun juga menerapkan tes masuk. Apa sih isi tesnya? Biasanya baca tulis. Jadi calon anak sudah harus bisa membaca dan menulis saat akan masuk SD. 

Saya sungguh risau dengan fenomena itu. Memang saya sudah lama mendengar adanya tes masuk SD. Ketika menjadi kepasa SD Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS) pada tahun 2000-2003 kami juga menggunakan tes masuk SD. Waktu itu tesnya tentang kematangan psikologis, artinya apakah anak memang secara psikologis sudah siap masuk SD. Maklum saat itu orangtua getol memasukkan anaknya ke SAIMS, bahkan saat anaknya belum genap usia 6 tahun. Oleh karena itu ketika mendengar tesnya baca tulis, apalagi membuka komputer saya sungguh kaget dam kemudian risai. Bukan risau anaknya lulus atau tidak lulus, toh masih ada SD lain yang mau menerimanya. Yang saya risaukan adalah dampaknya pada pendidikan di TK. Saya khawatir, adanya tes baca tulis tersebut kemudian mendorong TK memaksa anak-anak belajar membaca dan menulis.

Bahwa membaca itu penting, tentu kita setuju. Bahwa menulis itu penting kita juga setuju, pertanyaannya apakah anak TK sudah harus belajar membaca-menulis. Dan apakah itu merupakan syarat “kelulusan” TK dan kemudian diteskan saat masuk SD. Bukan di usia TK, pembelajaran sebaiknya diarahkan untuk pengembangan diri, bersosialisasi dan menmbuhkan kreativitas? Anak TK justru lebih penting anak-anak TK didorong mengenal dirinya, lingkungannya, mengembangkan cita-cita dan sebagainya. Intinya mengembangkan kecakapan hidup yang sesuai dengan usianya.

Mengenal orang-orang besar, orang-orang sukses, orang-orang baik, sangat penting bagi anak-anak usia TK, sebagai awal mengembangkan cita-cita. Biasanya dengan mengenal orang-orang “besar” tersebut, anak mulai mencari identifikasi diri untuk membangun cita-cita. Cita-cita seperi itu, walaupun sangat mungkin pada saatnay berubah, tetap sangat penting. Apalagi jika kemudian anak-anak mulai belajar (sesuai dengan usianya) bagaimana perjalanan hidup tokoh yang diidamkan.

Perlu difahami bahwa menulis dengan huruf-huruf merupakan sesuatu yang baku. Oleh karena itu belajar menulis bagi anak kecil (bukan mengarang) tidak banyak memberikan ruang untuk berimajinasi. Lain dengan mengambar (yang betul caranya), anak berkesempatan menuangkan apa yang ada di pikirannya. Bahkan mendorong anak untuk berimajinasi. Saya khawatir, orang berpandangan belajar menulis analog dengan belajar mengarang. Mengarang memang merupakan wahana mengembangkan imajinasi, tetapi belajar menulis (melukis huruf yang memiliki standar baku) tidak sama. Sekali lagi belajar menulis dalam pengertian melukis huruf dengan standar-standar baku justru tidak sejalan dengan mengarang. Yang sejalan dengan mengarang untuk mengembangkan imajisasi dan kreativitas untuk anak usia TK adala menggambar dan bercerita.

Uraian di atas, bukan berarti anak usia TK dilarang belajar membaca dan menulis. Tentu itu bagus, tetapi jika itu merupakan keinginan anaknya sendiri dan bukan secara sistimatis guru memaksa dan apalagi itu masuk dalam kurikulum. Saya takut jangan-jangan rendahnya kreativitas anak-anak kita salah satunya disebabkan oleh fenomena tes baca-tulis ketika masuk SD. Semoga hal itu menjadi perhatian bagi semua pihak yang peduli kepada pendidikan, khususnya anak usia dini.

(muchlas-universitas negeri surabaya) 

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya untuk senang dan gemar membaca agar ia memiliki wawasan dan informasi yang luas. Tapi bagaimana membuat si kecil agar senang membaca?

“Sejak usia 6 bulan anak sudah bisa diperkenalkan membaca dengan cara duduk bersama dipangkuan ibunya lalu dibacakan buku cerita, setelah anak berusia 6-7 tahun ia sudah mulai bisa membaca sendiri,” ujar psikolog anak Ike R Sugianto, Psi saat dihubungi detikHealth, Selasa (8/2/2011).

Ike menuturkan yang harus dipahami adalah seberapa penting orangtua mengganggap kegiatan membaca bersama ini adalah sesuatu yang penting. Karena kebanyakan kini peran orangtua mengajak membaca anak digantikan oleh pengasuhnya.

“Kegiatan ini bukan hanya sekedar membuat anak senang membaca, tapi juga bisa menjalin keakraban dan kebersamaan (emotional bonding) dengan anak yang nantinya akan berpengaruh terhadap perilakunya seperti menjadi patuh dengan orangtua. Karenanya efek dari membaca akan berbeda jika yang membacakan buku adalah pengasuhnya,” ungkap psikolog yang menjadi pemilik dan berpraktek di Potentia Center Jakarta Barat.

Strategi lain adalah mendongengkan anak saat ia bermain karena akan memiliki efek yang lebih baik untuk anak berinteraksi.

Agar anak senang dan gemar membaca ada beberapa tips atau hal yang bisa dilakukan oleh orangtua yaitu:

1. Buatlah suasana kegiatan membaca yang menyenangkan dan mengasyikkan bagi anak, misalnya dengan memangku si kecil, membaca buku bersama-sama atau membaca sambil memeluk anak.

2. Pilihlah buku yang sesuai dengan usia anak, misalnya untuk anak-anak balita pilihlah buku dengan gambar yang besar, berwarna dan sedikit tulisan, sedangkan untuk bayi pilihlah buku yang terbuat dari kain.

3. Buku-buku yang dipilih sebaiknya melibatkan interaksi dengan anak sehingga anak lebih tertarik untuk membacanya dan tidak menjadi pasif atau hanya mendengarkan saja.

4. Waktu membacakan buku, orangtua sebaiknya membuat intonasi nada yang menarik, seru, heboh dan jangan yang datar-datar saja karena akan membuat anak menjadi cepat bosan.

5. Jangan memarahi anak jika ia memegang buku dan merusak atau merobeknya. Jika membelikan buku untuk balita atau bayi maka orangtua harus siap-siap bukunya menjadi robek, rusak atau diremas-remas. Tapi orangtua jangan memarahi si kecil karena akan membuat ia menjadi trauma dan tidak mau membaca lagi karena teringat peristiwa tersebut.

6. Orangtua juga harus senang membaca dan memberikan contoh pada anak-anaknya untuk membaca buku. Jika orangtua lebih senang menonton televisi maka anak-anak pun akan lebih memilih menonton televisi daripada membaca.

“Orangtua harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anak, jika orangtua tidak senang membaca dan membiarkan televisi menyala 24 jam, maka jangan harap anaknya akan menjadi senang membaca,” ungkap psikolog lulusan UI ini.

sumber: DetikHealth

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.