Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Kegiatan Strawberry’ Category

MERAMAL MASA DEPAN ANAK DENGAN TES “MARSHMALLOW”

oleh : Bunda Nurul Khotimah
Berikut adalah hasil penelitian yang dilakukan Walter Mischel untuk mengukur tingkat kontrol diri anak dan pengaruhnya terhadap keberhasilannya di masa depan.
Di akhir tahun 1960an, Walter Mischel, seorang profesor ilmu psikologi di Stanford University melakukan sebuah percobaan sederhana yang kemudian menjadi buah bibir di dunia psikologi. Awalnya, dia hanya ingin menyelidiki proses mental yang membuat sebagian orang mampu mengontrol diri mereka, sementara lainnya menyerah dengan cepat. Anak-anak yang ikut dalam eksperimennya diundang untuk masuk satu per satu ke sebuah ruangan di Bing Nursery School, yang terletak di kampus Stanford University. Ruangan tersebut tidak terlalu besar, dan hanya terdapat sebuah meja dan kursi di dalamnya. Di atas meja tersebut terdapat berbagai makanan kesukaan anak kecil: kembang gula marshmallow, biskuit, dan pretzel.
Anak yang masuk kemudian akan diminta untuk duduk dan dipersilakan memilih salah satu dari makanan-makanan kecil tersebut. Seorang periset kemudian mengajukan tawaran: Anak tersebut boleh langsung mengambil pilihan mereka; atau jika mereka mau menunggu periset tersebut yang akan keluar selama beberapa menit, anak tersebut boleh mendapatkan dua jenis makanan kesukaan mereka. Bila mereka tidak sabar menunggu dan ingin segera menikmati makanan kecil tersebut, mereka boleh membunyikan lonceng yang ditaruh di atas meja, dan periset tersebut akan langsung masuk untuk memberikan anak satu jenis jajanan saja. Setelah anak-anak tersebut mengerti, periset tersebut kemudian meninggalkan ruangan sekitar lima belas menit.
Eksperimen tersebut dilakukan selama beberapa tahun. Dalam upaya menahan godaan mereka untuk mendapatkan tawaran yang nilainya dua kali lebih banyak, sebagian anak-anak menutup mata mereka, bersembunyi di kolong meja, atau melihat ke arah lain. Yang lainnya menendang-nendang meja, atau bermain-main dengan rambut mereka. Salah seorang anak terlihat melirik sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Kemudian dia mengambil sebuah Oreo, membuka bagian tengahnya, menjilati krim putihnya, dan kemudian dengan mengembalikan biskuit tersebut ke tempat semua — dengan wajah penuh kemenangan. Dan tentu saja, beberapa anak menyerah dan tanpa membunyikan lonceng, langsung menyantap makanan kesukaan mereka.
Setelah menerbitkan beberapa makalah dari percobaan di atas, Mischel berpindah ke penelitian-penelitian lain. Eksperimen yang melibatkan anak-anak yang berjuang melawan nafsu mereka memang cukup menarik, tetapi Mischel tidak merasa percobaan tersebut bisa melambungkan namanya. Masih banyak penelitian lain yang kelihatannya lebih menarik dan berbobot.
Sesekali ketika Mischel berbincang-bincang dengan tiga orang anak perempuannya yang juga pernah bersekolah di Bing, dia menanyakan kabar teman-teman sekelas mereka. Bagaimana kabar Jane? Bagaimana kabar Eric? Dari jawaban-jawaban para putrinya, Mischel mulai menyadari adanya hubungan antara prestasi akademik teman-teman anaknya setelah remaja dengan kemampuan mereka menahan diri selama eksperimen di atas. Dia meminta putri-putrinya memberikan skala 0-5 untuk menilai prestasi akademik teman-teman mereka, dan hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan data pada percobaan tersebut. Begitu dia menemukan adanya korelasi yang menarik antara kemampuan kontrol diri dan prestasi akademik anak-anak tersebut, dia segera memutuskan kembali meneliti data-data percobaan tersebut dengan serius.
Di tahun 1981, ketika anak-anak tersebut sudah masuk usia sekolah menengah, Mischel mengirimkan kuisioner kepada para orang tua dan guru dari 653 anak-anak yang pernah mengikuti eksperimen di Bing tersebut. Kuisioner tersebut memuat pertanyaan-pertanyaan tentang semua perilaku yang bisa dipikirkannya, dari kemampuan mereka membuat rencana, atau berpikir ke depan, kemampuan mengatasi masalah atau konflik, atau kemampuan antar personal mereka. Dia juga meminta hasil ujian SAT mereka (SAT adalah ujian standar di Amerika untuk masuk ke perguruan tinggi).
Ketika data-data masuk dan Mischel mulai menganalisis hasilnya, dia menemukan anak-anak yang tidak sabar, yang tidak bisa menahan diri mereka dalam percobaan tersebut, lebih mungkin menghadapi masalah tingkah laku, baik di sekolah atau pun di rumah. Mereka juga mendapatkan nilai ujian yang lebih rendah, sulit berkonsentrasi dan memiliki lebih sedikit teman. Mereka yang bisa bertahan selama 15 menit dalam ruangan tersebut tanpa menyentuh makanan kesukaan mereka, secara rata-rata berhasil meraih nilai SAT 210 poin lebih tinggi dari mereka yang hanya bertahan 30 detik. Ketika mereka berusia 30 tahun, anak-anak yang dulunya tidak bisa mengontrol diri mereka memiliki berat badan yang lebih tinggi, dan lebih mungkin terlibat dalam obat bius.
Mengapa kontrol diri sangat penting? Selama berpuluh-puluh tahun, para psikolog dan masyarakat umum percaya bahwa kecerdasan adalah faktor utama untuk menentukan sukses di kemudian hari. Tetapi seperti yang kita baca di buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya, hal tersebut tidak benar. Kecerdasan tanpa pengetahuan mendalam di satu bidang tidaklah berguna, dan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut dibutuhkan kerja keras. Mischel juga berpendapat demikian. Anak dengan IQ setinggi langit pun harus mengerjakan pekerjaan rumah mereka, dan kontrol diri memungkinkan mereka berfokus melakukan hal yang harus dilakukan, meski mereka tidak menyukainya.
Menurut Mischel, apa yang penting dari eksperimen tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama ujian marshmallow, bukanlah cuma tentang kontrol diri atau kekuatan keinginan, tetapi tentang bagaimana mereka mencari cara agar tujuan mereka tercapai dalam situasi yang menantang. Pada dasarnya, semua orang menginginkan “marshmallow” kedua, ketiga, dan seterusnya. Yang menjadi pertanyaan: Bagaimana cara mendapatkannya? Kita tidak bisa mengontrol lingkungan kita, tetapi kita bisa mengontrol tanggapan kita tentang situasi yang sedang kita hadapi tersebut. Kemampuan mengontrol diri kita sendiri tersebut, pada akhirnya yang akan menentukan ke arah mana hidup kita akan menuju.
Menurut Mischel, itulah sebabnya ujian sederhana tersebut mampu meramalkan dengan baik keberhasilan anak-anak tersebut berpuluh tahun kemudian. Ujian tersebut adalah tentang kemampuan mengatasi emosi sesaat. Jika Anda bisa menghindari godaan sesaat tersebut, Anda bisa berfokus pada tujuan jangka panjang yang lebih penting seperti belajar, berlatih, atau menabung untuk masa depan. Meski eksperimen Mischel ini tidak ditujukan untuk menjelaskan pencapaian keahlian individu, bisa dipastikan kemampuan kontrol diri tersebut jelas dibutuhkan untuk menjalani deliberate practice dan pembelajaran yang benar selama belasan tahun.
Lalu bagaimana kemampuan kontrol diri tersebut diperoleh? Studi Mischel dan rekan-rekannya yang berikutnya menemukan perbedaan kemampuan kontrol diri tersebut sudah muncul sejak anak-anak belajar berjalan, sekitar satu setengah tahun. Anda yang masih percaya bahwa faktor keturunan adalah faktor utama dalam pencapaian sukses dan keahlian akan segera bersorak. Nah, akhirnya terbukti juga keturunan adalah faktor yang paling penting. Namun, tunggu dulu. Jangan bersorak gembira dulu karena Mischel tidak setuju dengan Anda. Lingkungan lebih mungkin menjelaskan perbedaan tersebut. Ketika Mischel melakukan eksperimen di keluarga miskin dengan keluarga kaya, dia menemukan anak-anak dari kalangan berada memiliki kontrol diri yang lebih tinggi. Mengingat tidak ada gen yang berkaitan dengan kekayaan, maka penjelasan yang lebih masuk akal adalah kontrol diri merupakan hasil dari pendidikan di rumah. Orang tua yang miskin tidak memiliki waktu untuk melatih anak-anak mereka menunda kesenangan karena sibuk dengan urusan perut yang lebih mendesak. Kontrol diri adalah hasil dari latihan yang diberikan orang tua sejak sedini mungkin.
Untuk membuktikan hal tersebut, Mischel dan rekan-rekannya mengajari anak-anak untuk menganggap gula-gula marshmallow sebagai awan. Melalui latihan tersebut, kontrol diri anak-anak tersebut meningkat naik. Tentu saja agar kemampuan mengalihkan perhatian tersebut menjadi kebiasaan, hal tersebut perlu diulang dan dilatih.
Bagaimanakah dengan kontrol diri Anda, atau anak-anak Anda?

Iklan

Read Full Post »

LPPM Cendekia Insan Utama dan Strawberry Story Telling Center Kediri selenggarakan program untuk mengisi PROGRAM LIBURAN UNTUK GURU (PAUD/TK/SD/ Penyayang anak) dengan menghadirkan Pendongeng Ki Heru Cokro dari Surabaya.

pelatihan akan diselenggarakan di kampus alam PAUD Strawberry, Jl Garuda 91B Semanding Pare. Pelaksanaan tgl 29 Juni s/d 1 Juli 2010 mulai jam 08.00 – 16.00.

Pendaftaran dibuka mulai sekarang ke 081 335 561 420 atau datang ke PAUD Strawberry. pendaftaran ditutup sewaktu-waktu bila kuota sudah terpenuhi.

Ayo…. Buruan Ikut.

Read Full Post »